Seputar Sex Kita
sex di usia senja(tua)
Para Pembaca, omong-omong siapa tahu Anda berbakat untuk menjadi ahli sex.................... banyak duitnya lho dilahan yang satu ini. Bisa jadi Dokter Seksologi, Sex Therapist, Sex Analyst, Sex Consultant dan sebagainya. Sana "latihan" dulu agar tahu teori-teori mana yang bisa dan enak dipraktekkan, biar advisnya klop dan afdhol ! Ha ha ha ha ha.......
Para pembaca, Sex yang aku akan bahas dalam Tulisan ini bukan yang aneh-aneh, melainkan yang wajar-wajar saja sekedar memenuhi kebutuhan biologis dan menikmati hidup serta cinta baik di usia remaja maupun diusia senja. USIA SENJA JANGAN DIARTIKAN AKHIR DARI KEHIDUPAN. Merosot, menurun dan tenggelam secara perlahan atau cepat itu kita sadari namun upayakan proses alamiah itu berlangsung "smooth" bagaikan "golden sunset".
Jangan kita mempercepat menenggelamkan diri.Di tempat khusus "manula" ini ceritaannya cenderung keluhan (penyakit, pacar kurang sayang, pemerintah brengsek, pasangan cerewet menjengkelkan, uang belanja tidak cukup, dll) atau "post power syndrome story" yang diulang-ulang mengenai "kehebatan" mereka dimasa kecilnya. Kalau diajak berembuk untuk memutuskan sesuatu bertendensi keras kepala, tidak bisa menerima kompromi atau konsensus.
Menghadapi orang-orang macam beginian yang pada dasarnya stress atau depresi karena tidak bisa menerima bahwa menjadi dewasa itu adalah proses alami............... sikapku ya bilang "ya" saja, tetapi aku tidak bakal jalankan apa yang aku "iya"kan itu.
Buang waktu dan mendongkol saja berdebat dengan mereka. Tetapi sebaliknya ada pula yang "terlalu menerima dan pasrah", membiarkan dirinya digerogoti kedewasaaan secara drastis - pikirannya mau cepat-cepat habis saja babak kehidupan didunia yang morat marit dan membosankan ini.
Tentu aku juga tidak bakalan bergabung dengan club-club lain yang lebih menyimpang. Pasti tidak cocok dan hanya dijadikan bahan tertawaan saja.
Ketika beberapa tahun yang silam aku menghadiri acara Reuni Sekolah di Jakarta semasa SMP/SMA dulu (dikota kecil) dengan batasan angkatan 5 tahun dibawah/ diatas usia 60 tahun sehingga pesertanya antara usia 55 sampai 65 tahunan........... ya tentu banyak yang sudah jadi kakek nenek. Aku terkejut banyak yang nampak sudah peot dan reyot, entah karena tekanan ekonomi atau badai rumah tangga atau masalah anak cucu yang merisaukannya............................akupun tak terlalu tanya-tanya kuatir menyinggung atau menambah kepedihan. Tetapi ada yang kelihatannya "well to do" dan "well being" bahkan beberapa teman perempuanku ada yang masih "sensual". Dengan yang beginian memang terasa lebih nyaman, ngobrolnya "lepas" dan penuh "sense of humor".
Kesimpulanku lelaki atau perempuan biarpun sudah beranjak ke usia "senja" sebetulnya masih punya kebutuhan dan nafsu sex, hanya saja dipadamkan atau ditekan sendiri atau berdua - alasan klasik adalah patah semangat, malu dan jenuh/bosan. Seharusnya jangan merasa tua segalanya sudah pada loyo. Tak usah malu-malu, kan diluar berdua tidak ada yang menonton kok. Jenuh atau bosan ? Kedua belah pihak harus kerja sama dan kreatif maka tidak bakal bosan-bosannya ngesek dengan pasangan yang sama sekalipun sudah ribuan kali........................ serasa dapat pengalaman "baru" dan "exciting" terus. Makan nasi puluhan tahun kan tidak bosan-bosan ? Begitu juga makan daging ayam...................bisa dibikin rendang, ayam goreng pop, taliwang, kalasan, bakso, nasi tim ayam, perkedel atau apa saja. Bahan dasarnya sama yaitu ayam tetapi bisa dikreasi jadi 1001 macam.
JADI BAGAIMANA AKU MENYIKAPI USIA yang semakin dewasa ini
"AKU BERKEMAS SEAKAN BESOK AKAN MATI, NAMUN TETAP BERKARYA SEOLAH AKAN HIDUP SERIBU TAHUN LAGI !" Petuah ayahku : "Jangan mati sebelum hidup !" "Mati dan hidup ditangan Tuhan, jangan minta diperpendek atau diperpanjang ! Biarlah itu bergulir sesuai Rencana Tu
Para pembaca, Sex yang aku akan bahas dalam Tulisan ini bukan yang aneh-aneh, melainkan yang wajar-wajar saja sekedar memenuhi kebutuhan biologis dan menikmati hidup serta cinta baik di usia remaja maupun diusia senja. USIA SENJA JANGAN DIARTIKAN AKHIR DARI KEHIDUPAN. Merosot, menurun dan tenggelam secara perlahan atau cepat itu kita sadari namun upayakan proses alamiah itu berlangsung "smooth" bagaikan "golden sunset".
Jangan kita mempercepat menenggelamkan diri.Di tempat khusus "manula" ini ceritaannya cenderung keluhan (penyakit, pacar kurang sayang, pemerintah brengsek, pasangan cerewet menjengkelkan, uang belanja tidak cukup, dll) atau "post power syndrome story" yang diulang-ulang mengenai "kehebatan" mereka dimasa kecilnya. Kalau diajak berembuk untuk memutuskan sesuatu bertendensi keras kepala, tidak bisa menerima kompromi atau konsensus.
Menghadapi orang-orang macam beginian yang pada dasarnya stress atau depresi karena tidak bisa menerima bahwa menjadi dewasa itu adalah proses alami............... sikapku ya bilang "ya" saja, tetapi aku tidak bakal jalankan apa yang aku "iya"kan itu.
Buang waktu dan mendongkol saja berdebat dengan mereka. Tetapi sebaliknya ada pula yang "terlalu menerima dan pasrah", membiarkan dirinya digerogoti kedewasaaan secara drastis - pikirannya mau cepat-cepat habis saja babak kehidupan didunia yang morat marit dan membosankan ini.
Tentu aku juga tidak bakalan bergabung dengan club-club lain yang lebih menyimpang. Pasti tidak cocok dan hanya dijadikan bahan tertawaan saja.
Ketika beberapa tahun yang silam aku menghadiri acara Reuni Sekolah di Jakarta semasa SMP/SMA dulu (dikota kecil) dengan batasan angkatan 5 tahun dibawah/ diatas usia 60 tahun sehingga pesertanya antara usia 55 sampai 65 tahunan........... ya tentu banyak yang sudah jadi kakek nenek. Aku terkejut banyak yang nampak sudah peot dan reyot, entah karena tekanan ekonomi atau badai rumah tangga atau masalah anak cucu yang merisaukannya............................akupun tak terlalu tanya-tanya kuatir menyinggung atau menambah kepedihan. Tetapi ada yang kelihatannya "well to do" dan "well being" bahkan beberapa teman perempuanku ada yang masih "sensual". Dengan yang beginian memang terasa lebih nyaman, ngobrolnya "lepas" dan penuh "sense of humor".
Kesimpulanku lelaki atau perempuan biarpun sudah beranjak ke usia "senja" sebetulnya masih punya kebutuhan dan nafsu sex, hanya saja dipadamkan atau ditekan sendiri atau berdua - alasan klasik adalah patah semangat, malu dan jenuh/bosan. Seharusnya jangan merasa tua segalanya sudah pada loyo. Tak usah malu-malu, kan diluar berdua tidak ada yang menonton kok. Jenuh atau bosan ? Kedua belah pihak harus kerja sama dan kreatif maka tidak bakal bosan-bosannya ngesek dengan pasangan yang sama sekalipun sudah ribuan kali........................ serasa dapat pengalaman "baru" dan "exciting" terus. Makan nasi puluhan tahun kan tidak bosan-bosan ? Begitu juga makan daging ayam...................bisa dibikin rendang, ayam goreng pop, taliwang, kalasan, bakso, nasi tim ayam, perkedel atau apa saja. Bahan dasarnya sama yaitu ayam tetapi bisa dikreasi jadi 1001 macam.
JADI BAGAIMANA AKU MENYIKAPI USIA yang semakin dewasa ini
"AKU BERKEMAS SEAKAN BESOK AKAN MATI, NAMUN TETAP BERKARYA SEOLAH AKAN HIDUP SERIBU TAHUN LAGI !" Petuah ayahku : "Jangan mati sebelum hidup !" "Mati dan hidup ditangan Tuhan, jangan minta diperpendek atau diperpanjang ! Biarlah itu bergulir sesuai Rencana Tu


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda